Nyiur itu serupa dengan matamu, diam menggiurkan, teduh menyejukkan relung hatiku. Namun tak lantas dirimu serupa lautan, yang terlalu merahasia, sampai aku enggan menyentuhnya Nirmala.. yang jatuh ke bumi dengan rinainya yang rupawan. kini aku telah jatuh, jatuh dalam dekapanmu meski ucapmu tetap sama, “aku tidak bisa, Gama.” “Persetan!” bantahku, namun tidak teganya kulontarkan karena raut mukamu, selalu berhasil mengaburkan caraku yang kekanak-kanakan itu. Tetapi, Nirmala.. nyatanya ucapmu itu benar, ucapmu bukan omong kosong yang ingin membuatku pergi Lagi, aku sukar membencimu bantahanmu yang selalu mematahkan, tidak bisa menjadi sumbu untuk kunyalakan Nirmala… andai saja,