1.
Nyiur itu serupa dengan matamu,
diam menggiurkan, teduh menyejukkan relung hatiku.
Namun tak lantas dirimu serupa lautan, yang terlalu merahasia,
sampai aku enggan menyentuhnya
Nirmala..
yang jatuh ke bumi dengan rinainya yang rupawan.
kini aku telah jatuh, jatuh dalam dekapanmu
meski ucapmu tetap sama,
“aku tidak bisa, Gama.”
“Persetan!” bantahku, namun tidak teganya kulontarkan karena raut mukamu, selalu berhasil mengaburkan caraku yang kekanak-kanakan itu.
Tetapi, Nirmala..
nyatanya ucapmu itu benar,
ucapmu bukan omong kosong yang ingin membuatku pergi
Lagi, aku sukar membencimu
bantahanmu yang selalu mematahkan, tidak bisa menjadi sumbu untuk kunyalakan
Nirmala…
andai saja,
Komentar
Posting Komentar